Selasa, 31 Mei 2016

Peran Soeharto Dalam Peristiwa Gerakan 30 September 1965

Peran Soeharto Dalam Peristiwa Gerakan 30 September 1965

Dalam buku Sejarah kelas 3 kurikulum 1994 ditulis bahwa PKI yang menjadi dalang peristiwa Gerakan 30 September 1965. Dimana peristiwa itu mengigatkan kita bahwa PKI selalu berusaha mencari kesempatan untuk melakukan Kudeta (perebutan kekuasaan).


Dalam buku tersebut juga disebutkan bahwa Aidit menugaskan Kamaruzaman alias Syam sebagai Ketua Biro Khusus PKI untuk merancang dan mempersiapkan perebutan kekuasaan. Kemudian biro ini melakukan pembinaan terhadap perwira-perwira ABRI diantaranya adalah Brigjen Supardjo dan Letkol Untung dari TNI AD, Kolonel Sunardi dari TNI AL dan Letkol Anwas dari Kepolisian. PKI menyadari bahhwa hambatan untuk mencapai tujuannya adalah TNI AD.Oleh karena itu pada tanggal 30 September 1965 sebelum subuh tanggal 1 Oktober 1965 upaya penculikan dan pembunuhan terhadap para perwira tinggi TNI AD dilancarkan. Di buku tersebut juga dipaparkan bahwa penumpasan pemberontakan G30S/PKI dilakukan oleh ABRI dan rakyat yang setia kepada Pancasila. Mayjen Soeharto sebagai Panglima Kostrad (Komando Strategi Angkatan Darat) mengambil langkah-langkah untuk memulihkan kembali keadaan.
Kebutuhan akan rekonstruksi sejarah, yang terasa berkenaan dengan tumbuhnya kebingungan masyarakat awam mengenai sejarah G30S/PKI seperti yang telah mencuat melalui media massa. Ironisnya hampir seluruh informasi baru diekspos oleh media tersebut bertolak belakang dengan buku SMP kelas 3 1994. Pemaparan baru fakta dan opini dibalik G30S/PKI itu pada pokoknya ingin mengubah peran dan posisi Jendral Soeharto terhadap G30S/PKI yakni pemberantas yang cekatan dan jitu menjadi terlibat atau tersangka.
Adapun pemaparan baru tentang fakta dan opini di balik G30S/PKI itu, ingin merubah total peran dan posisi Soeharto terhadap G30S/PKI yakni sebagai pemberantas yang cekatan dan jitu mejadi terlibat atau tersangka.

Fakta-fakta tersebut antara lain:

1.      Pengakuan Kol. A. Latief (gembong PKI) bahwa dua kali ia memberitahukan kepada Soeharto tentang rencana “penindakan” terhadap sejumlah jendral. Dalam bahasa laten menghadapkan Dewan Jendral kepada Presiden. Namun Soeharto yang pada saat itu Panglima Kostrad tidak mengambil inisiatif melapor kepada atasannya. Dia diam saja dan hanya manggut-manggut mendengar laporan itu. Latief menginformasikan rencana “penindakan” terhadap para Jendral itu dua hari dan enam sebelum hari H.
2.      Fakta bahwa sebagai perwira tinggi dengan fungsi pemandu di bawah Pangab Jendral A. Yani, Soeharto tidak termasuk sasaran G30S/PKI. Ini bisa dipertanyakan, mengingat strategisnya posisi Kostrad apabila Negara dalam keadaan  bahaya. Kalau betul Soeharto tidak berada dalam Inner Cycle gerakan, kemungkinan besar ia termasuk dalam daftar korban yang dihabisi di malam tersebut.
3.      Hubungan emosional cukup dan amat dekat Soeharto dengan para pelaku PKI yakni Untung dan Latief sedangkan Sjam termasuk kolega Soeharto di tahun-tahun sesudah Proklamasi.
4.      Menurut penuturan Mayjen (Purn) Mursjid, 30 September malam menjelang 1 Oktober 1965 itu pasukan Yon 530/Brawijaya berada di sekitar Monas. Padahal tugas panggilan dari Pangkostrad Mayjen Soeharto adalah untuk defile 5 Oktober.
5.     Mayjen (Purn) Suharjo, mantan Pangdam Mulawarman yang sama-sama dalam tahanan dengan Mayor (Purn) Soekardi, eks Wadan Yon 530/Brawijaya menceritakan bahwa surat perintah dari Pangkostrad kepada DanYon 530 itu dalam rangka penugasan yang disinggung Jendral Mursjid tadi, ternyata kemudian dibeli oleh Soeharto seharga Rp 20 juta.
Soekarno dan Soeharto
Ratna Sari Dewi (mantan istri Bung Karno) pernah menyatakan: “Sejak pagi 1 Oktober Soeharto sudah mempropaganda bahwa pelakunya PKI terkesan seperti dia sudah tahu semua, seakan telah direncanakan. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana ia bisa menguasai Indonesia? Harus diingat system komunikasi saat itu belum seperti sekarang. Teleponnya belum lancar dan tak ada yang punya telepon genggam. Bagaimana dia bisa memecahkan masalah yang terjadi pada malam 30 September dan segera bertindak begitu cepat? Kalau belum tahu rencana G30S/PKI ia tidak mungkin bisa melakukannya.”
Dari kutipan buku Sejarah SMP kelas 3 tersebut diatas dengan pengakuan Ratna Sari Dewi kita dapat menarik menarik kesimpulan bahwa Soeharto sudah mengetahui akan terjadi gerakan 30 September yang dilakukan PKI.
Hal ini dibuktikan, mengapa begitu cepat dia mengambil keputusan dan mengumumkan ke seluruh rakyat Indonesia melalui RRI, bahwa telah terjadi peristiwa penculikan oleh gerakan kontra Revolusioner yang menamakan dirinya G30S padahal, alat komunikasi pada saat itu belum secanggih sekarang.
Fakta-fakta lain yang mampu mengungkap kebenaran ini tidak hanya sebatas fakta internal. Lebih dari itu kebenaran yang mulai terkuak mengejutkan masyarakat awam adalah ternyata Soeharto juga mempunyai hubungan gelap dengan CIA. Hal ini terbukti dengan adanya satu kompi batalyon 454 Diponegoro Jawa Tengah dan satu kompi batalyon 530 Brawijaya Jawa Timur, yang secara terselubung digunakan Soeharto sebagai penggerak sekaligus penumpas G30S, ternyata merupakan pasukan raider elite yang menerima bantuan AS sejak 1962. Lebih dari itu penggerak Gestapu itu sendiri ternyata pernah di latih di AS.
Selain itu, Soeharto juga mempunyai konspirasi terhadap PKI. Hal ini dapat dibuktikan degan adanya dua fakta terpisah yang bila dirangkai akan menempatkan Soeharto terlibat perencanan mengkudeta Soekarno sekaligus pembunuhan Jendral. Pertama: Kesiapsiagaan batalyon 530 dan 454 yang terakhir ini malah sudah di binanya sejak menjabat Pangda Diponegoro. Kedua: ia mengabaikan laporan Latief bahwa sejumlah Jendral akan diculik.
Disinyalir, Soeharto sudah lama menjalin yang bekerjasama dengan tokoh-tokoh PKI dan berusaha untuk menghabisi Soekarno. Dalam teori konspirasi tersebut, ada tiga skenario yang dipakai Soeharto untuk membunuh Soekarno yaitu: pertama, Soekarno akan dibunuh dalam upacara hari Angkatan Bersenjata oleh batalyon 305. Kedua: penembakan di Istana, dan skenario yang ketiga Soekarno dipersiapkan diterbangkan ke Madiun bersama Aidit, agar dengan mudah Bung Karno dituduh sebagai dalang G30S karena pergi bersama Aidit. Yang lebih mengherankan mengapa Soeharto dari mempunyai persengkongkolan hendak menghabisi Soekarno dan membunuh sejumlah Jendral saingannya, secara tiba-tiba berbalik memukul PKI? Perubahan sikap yang mendadak inilah yang menyebabkan orang ragu untuk menuding Soeharto sebagai dalang G30S.
Dalam hal ini Herman Sarens menduga, diketahuinya rencana membunuh Soekarno dalam upacara hari Angkatan Bersenjata oleh pasukan batalyon 305, merupakan sebab perubahan skenario gerakan. Skenario kedua juga gagal karena mereka tidak menduga kalau Bung Karno pagi itu tidak berada di Istana.
Itu sebabnya serta merta dipakai skenario yang ketiga, yakni menempatkan Soeharto dan Aidit dalam satu paket dalang gerakan. Tentu ini keputusan yang tepat karena kabar terbunuhnya sejumlah Jendral telah mengundang reaksi positif di kalangan tentara yang anti Soekarno dan anti PKI. “Semua bisa berjalan rapi karena ada kekuatan besar di belakangnya.”
Menurut Katy sejak meletusnya G30S/PKI telah terjadi pembantaian terhadap setidaknya 250.000 nyawa, yang diduga terlibat PKI atau simpatisannya. Hal ini juga dibenarkan oleh Ralph Mc Gehee yaitu seorang mantan angota CIA yang bertugas di Jakarta. Pemberontakan ini dilakukan oleh Soeharto yang dibantu oleh CIA
Akan tetapi, bagi Soeharto sendiri ia telah memperoleh kemenangan yaitu ia tampil sebagai pemenang dalam pertarungan yang memilukan itu dengan hancurnya PKI. Artinya dengan hancurnya PKI Soeharto dapat berjalan sendiri tanpa ada lagi pihak lain yang mencoba untuk menyaingi, dan akhirnya sampailah ia berkuasa di Indonesia selama 32 tahun.
DAFTAR PUSTAKA
Baskara, T, Wardaya. 2006. Bung Karno Menggugat ‘Marhaen, CIA, Pembantaian massal 65, Sehingga G 30 S’. Yogyakarta: Galang Press
Beise, Kerstin. 2004. Apakah Soeharto Terlibat G 30 S. Yogyakarta: Ombak
Djarot, Eros, dkk. 2006. Siapa Sebenarnya Soeharto ‘fakta dan kesaksian para pelaku sejarah G 30 S / PKI’. Jakarta: Media kita
Ejang, Odih, Sukadi. 1997. Sejarah (Nasional dan Umum) kelas III: Kurikulum 1994. Bandung: Ganeca Exact
Sutrisno, Slamet. 2006. Kontraversi Dan Rekonstruksi Sejarah. Media Pressindo
Syamdani. 2001. Kontraversi Sejarah Di Indonesia. Jakarta: Gramedia Widia Sarana

Tidak ada komentar: