Selasa, 31 Mei 2016

Peran Soeharto Dalam Peristiwa Gerakan 30 September 1965

Peran Soeharto Dalam Peristiwa Gerakan 30 September 1965

Dalam buku Sejarah kelas 3 kurikulum 1994 ditulis bahwa PKI yang menjadi dalang peristiwa Gerakan 30 September 1965. Dimana peristiwa itu mengigatkan kita bahwa PKI selalu berusaha mencari kesempatan untuk melakukan Kudeta (perebutan kekuasaan).

Peran Soeharto Dalam Peristiwa Gerakan 30 September 1965

Peran Soeharto Dalam Peristiwa Gerakan 30 September 1965

Dalam buku Sejarah kelas 3 kurikulum 1994 ditulis bahwa PKI yang menjadi dalang peristiwa Gerakan 30 September 1965. Dimana peristiwa itu mengigatkan kita bahwa PKI selalu berusaha mencari kesempatan untuk melakukan Kudeta (perebutan kekuasaan).

PENGARUH AJARAN ISLAM DAN HINDU TERHADAP KEBUDAYAAN SUNDA ?

Ahmad Yanuana Samantho Makalah saya masuk Jurnal Ilmiah Konfrontasi terbitan UI dan Unpad, dan termasuk Popular Post, sepanjang 5 edisi/volume terbitannya, sementara saya baru tahu sekarang dari Eyang Google. Alhamdulillah, semoga bermanfaat untuk kemanusian.http://www.konfrontasi.co/.../pengaruh-ajaran-islam-dan...


By Ahmad Yanuana Samantho

Abstract: 
This article explores the influences of Islam and Hindu traditions on Sundanese culture. This article is a historical analysis with cultural approach. conventional views tell us that the acculturation and assimilation of Hindu and Islam into Sundanese traditions created in such a way through the time runs. In fact, the process is not as simple as what many people say. Sunda and Sunda land have a very long history. Its civilization had already established before the Ice Age melted and separated the land into islands. At that time, Sunda land was the center of civilization with its own religion and belief. The Sundanese Wiwitan is a kind of belief that is quite similar with abrahamic tradition, and it is believed rooted to Adam. So, the process of assimilation of Hindu and Islam runs very smoothly.

Pyramids in Indonesia? It's not just Gunung Padang.


Pyramids in Indonesia is probably not something you hear about every day. And I’m not just talking about Gunung Padang Pyramid either. We all know of the Great Pyramids in Egypt, the Mayan Pyramid temples across Central and South America. For anyone that is particularly keen on the subject, you’ve probably also heard of the Pyramids in China and possibly in Bosnia too.



Secluded Pyramid temple in Central Java, Indonesia. Source.

Call for Papers The Third International Conference on Thought on Human Science in Islam (IC-Thusi) 2016

Mandala and fractal thinking in Southeast Asia and the Pacific

Mandala and fractal thinking in Southeast Asia and the Pacific


The term "mandala" is often used in scholarly literature to describe the polities, the temple architecture and other aspects of Southeast Asian culture.  The same word could be extended into the cultures of the Pacific where both mandala and fractal types of thinking also prevail.

Senin, 30 Mei 2016

Alpha-Omega, Gagasan “Pengulangan” Plato, Mengungkap Misteri Surga yang Hilang

Pengantar oleh: Ahmad Y. Samantho:
“Subhannallah wal hamdulillah, Puji Tuhan Allah, Rahayu Sagung Dhumadi. Ternyata apa yang sejak dulu sudah menjadi keyakinan saya dan 

saya publikasikan sejak 2008, Bahwa Nusantara adalah “Yang Awal dan Yang Akhir dari Peradaban Umat Manusia”, antara lain dalam buku saya PERADABAN ATLANTIS NUSANTARA, yang saya ungkapkan lebih sebagai suara hati, intuitif, kreteg rahsa batiniah, dengan sedikit penjelasan ilmiah.  Kini ada saudaraku seimanku, Christ Boro Tokan, yang dapat menjelaskannya  panjang lebar secara filosofis-religious ilmiah.” Semoga ini dapat menjadi kesadaran atau memicu kebangkitan masyarakat dunia, kebangkitan kaum beriman secara global, untuk menjemput Zaman Baru di bawah kepemimpinan “Dwi Tunggal” Imam Mahdi AS dan Yesus Christus (Budak Angon dan Budak Jangotan, saur Uga Wangsit Siliwangi, atau Satrio Pininngit menurut Prabu Joyoboyo) di Akhir Zaman ini. Amin YaRabb al-Alamin”.

Muhammad Nur Jabir: Epistemologi Modern; Analisa terhadap Pengetahuan

Muhammad Nur Jabir: Epistemologi Modern; Analisa terhadap Pengetahuan: Beragam pendekatan dalam menganalisis esensi pengetahuan. Misalnya menganalisa pengetahuan dari sisi fungsinya atau menganalisa pengetahuan ...

Dirgahayu HUT Pancasila

Selamat Hari Lahirnya Kembali Pancasila. Semoga semua Putra Bangsa Indonesia dapat semakin mengetahui-memahami-menghayati dan mengamalkan Falsafah dan Ideologi negara Pancasila dan "Bhineka Tunggal Ika."  Dan terhindar dari segala kebodohan yang mengatas-namakan agama. (Ahmad Y. Samantho)



Bonnie Triyana menulis:

PAGI itu, 1 Juni 1945, Sukarno didaulat menjadi pembicara pertama dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dia berdiri di hadapan puluhan anggota BPUPKI, mengenakan stelan jas dan kopiah beludru hitam. Membuka pidatonya dengan kritik kepada pembicara dalam sidang sebelumnya yang dinilainya terlalu “njelimet”, meributkan hal-hal yang kurang penting untuk mendirikan sebuah negara.

“… Di dalam hati, saya banyak khawatir, kalau-kalau banyak anggota yang –saya katakan dalam bahasa asing, maafkan perkataan ini– “zwaarwichtig” akan perkara yang kecil-kecil. Jikalau sudah membicarakan hal yang kecil-kecil sampai jelimet, barulah mereka berani menyatakan kemerdekaan,” ujar Sukarno.

Memang dalam rangkaian sidang yang dimulai sejak 28 Mei 1945 itu para pembicara sebelum Sukarno disibukkan oleh perdebatan bagaimana bentuk negara kelak, wilayah mana yang akan ditetapkan sebagai negara Indonesia dan bagaimana menjalankan pemerintahan. Itulah yang menurut Sukarno terlalu remeh untuk dibicarakan dan tak menyentuh persoalan yang sebenarnya.

Sukarno telah menjadi figur pemimpin nasionalis yang terkemuka sejak semasa sebelum perang. Orator yang piawai mempengaruhi massa pengikutnya. Seorang pemimpin yang sejak mula mengusung pentingnya kemerdekaan Indonesia. Sehingga dalam kesempatan pidato di sidang BPUPKI itu dia mengajukan usulan penting bahwa modal utama dari negara yang akan segera lahir itu tak lain adalah kemerdekaan. Karena kermerdekaan itu adalah “jembatan emas” kata Sukarno.

Jembatan. Itu kaca kuncinya. Di seberang jembatan itu kelak, kata Sukarno, semua akan ditata. Bagaimana masyarakat Indonesia yang telah meraih kemerdekaan akan hidup dengan landasan filosofi Pancasila yang menjunjung tinggi kesetaraan dalam keberagaman.

Maka dalam pidatonya yang kerap mendapatkan sambutan tepuk tangan meriah itu Sukarno mengemukakan konsep nasionalisme modern. Sebuah paham kebangsaan yang tak bersendikan pada satu suku atau satu agama semata, melainkan suatu negara “semua buat semua”. “Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan,” kata Sukarno dalam pidatonya.

Sukarno sadar betul bahwa masyarakat yang mendiami kepulauan Nusantara ini terdiri dari beragam macam latar belakang suku, agama dan ras. Mendirikan sebuah negara dengan basis agama atau suku bangsa tertentu bukanlah “intellectual fashion” yang sedang menggejala di kalangan para pendiri bangsa saat itu.

Mahatma Gandhi misalnya, semenjak mula dia selalu berusaha untuk menciptkan satu India, kendati kemudian terpecah menjadi Pakistan dan Bangladesh. Nasionalisme Gandhi berdiri di atas prinsip kemanusiaan. “My nationalism is humanity,” kata Gandhi seperti dikutip oleh Sukarno. Sukarno pun dirasuki semangat yang sama untuk membangun sebuah negara-bangsa yang tak diikat oleh sentimen suku dan atau keagamaan.

Sejak menulis artikelnya di Suluh Indonesia Muda tahun 1926, Sukarno menyerang nasionalisme sempit yang disebutnya sebagai “jinggo-nationalism” yang memecah belah persatuan karena perbedaan agama. Dia mengingatkan orang betapa bahayanya jika sentimen agama dan ras dibiarkan berkembang menjadi-jadi sehingga memecah belah persatuan.

Atas dasar semua kekhawatirannya itu dia mengutamakan agar sebaiknya Indonesia memperoleh kemerdekaannya terlebih dahulu. Lantas dengan kaki, tangan dan otak bangsa Indonesia sendirilah semua tata-kehidupan di negeri ini diatur.
Tapi apakah keadaan di seberang “jembatan emas” yang pernah dicita-citakan oleh Sukarno itu sesuai dengan harapannya?

Kemerdekaan memang sudah di tangan. Tapi tugas terberat yang saat itu harus dilakukan oleh angkatan Sukarno, Hatta dan Sjahrir adalah bagaimana mengubah mentalitas mayoritas masyarakat Indonesia dari bangsa terjajah menjadi bangsa yang sepenuhnya merdeka. Terlepas dari segenap keterbelengguannya. Dalam pendapat Soedjatmoko bagaimana persoalan kemerdekaan yang telah diraih itu bisa mendatangkan kebebasan bagi seluruh orang Indonesia.

Kebebasan diperlukan karena selama ratusan tahun bangsa Indonesia hidup dalam penindasan dan penjajahan mewarisi struktur masyarakat yang timpang. Masyarakat yang disusun berdasarkan rasial, yang menempatkan orang Indonesia di kelas terendah dengan pengecualian para priayi yang masih memiliki hak istimewa, baik untuk duduk di pemerintahan maupun mengakses jenjang pendidikan tertinggi.
Foto Ahmad Yanuana Samantho.
Indonesia pada masa awal menyeberangi “jembatan emas” adalah sebuah keadaan di mana tingkat buta huruf masih tinggi, pendapatan per kapita masyarakatnya masih rendah, korupsi mulai marak dan konflik politik semakin meruncing.

Bahkan kini, 67 tahun setelah Indonesia meraih kemerdekaannya, cita-cita generasi angkatan Sukarno semakin jauh panggang dari api. Sentimen keagamaan justru semakin meningkat. Kemampuan untuk menerima perbedaan sangat rendah. Intoleransi lebih sering terjadi ketimbang toleransi. Korupsi bersimarajalela.

Indonesia, yang didirikan oleh para akitivis politik berwawasan luas dan kosmopolitan, justru tengah diramaikan oleh mereka yang berpikiran sempit yang tak sesuai dengan semangat pidato 1 Juni 1945: bahwa Indonesia didirikan “semua buat semua”. Indonesia kini berada di sebuah persimpangan dan pada persimpangan itu kita membutuhkan kaca spion untuk melihat ke belakang. Untuk melihat kembali apa yang dikatakan oleh Sukarno dalam pidatonya tentang tujuan didirikannya negara ini.

Sukarno memang seorang pemimpin sekaligus pemimpi yang besar. Sebagaimana yang selalu dia katakan bahwa Indonesia merdeka adalah bekal untuk menciptakan masyarakat yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja.

Tapi saat ini saya melihat dari lantai empat pada gedung di mana saya bekerja. Keruwetan lalu lintas di ibukota. Mobil dan motor saling-silang, selip-menyelip, menyerupai gulungan benang kusut ditingkahi teriak sopir, kernet, dan bunyi klakson. Pengemis tunanetra berjalan beriringan di tepi jalan yang dipenuhi sampah, sementara tuan dan nyonya besar di atas sana selalu mengaku memikirkan nasib rakyat yang tak pernah habis-habisnya dipikirkan.
I
tulah keadaan di seberang “jembatan emas” yang terjadi di negeri ini 70 tahun setelah kemerdekaanya. Mungkin bukan ini maksud Sukarno tapi begitulah kenyataannya.

Sumber:


Muhammad Nur Jabir: Kajian Suluk (1)

Muhammad Nur Jabir: Kajian Suluk (1): Perbedaan Akhlak dengan Amalan Sufistik; 1.       Pembahasan akhlak adalah suatu pembahasan yang akan membimbing manusia dalam meraih si...

Buku Karya Admin Bayt al-Hikmah Institute: Ahmad Yanuana Samantho






‘Islam Indonesia berbunga-bunga, bukan Wahabi yang primitif’

Pengantar: Irfan Permana P
Sebuah pertanyaan: ajaran Wahabi ini sangat kering, rigid, anti seni, miskin estetika, mengubur rasio dan spiritualitas. Tapi kok semakin diminati anak-anak muda dan pekerja kantoran terutama di kota-kota besar?
Jawaban (tentative) saya:

KEJAYAAN PAKUAN PAJAJARAN

KEJAYAAN PAKUAN PAJAJARAN MENURUT NASKAH KUNO DAN TULISAN ORANG PORTUGIS.

oleh: Taufik Hassunna (Aktifis LSM Masyarakat Cinta Bogor)
Dayeuh Pakuan (Kota Bogor sekarang) pernah mengalami masa jaya ketika menjadi purasaba (ibu kota) kerajaan Pajajaran dengan rajanya yang terkenal Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi) dari tahun 1482-1521 Masehi, peristiwa penobatan Sri Baduga pada tanggal 3 Juni 1482 sekarang diperingati sebagai Hari Jadi Bogor.
Pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja, terjadi hubungan internasional yang pertama dengan bangsa Eropa, bilateral dengan Portugis pada tahun 1513, sedangkan negara-negara lainnya yang sempat jadi sahabat dalam perdagangan diantaranya : Cina, Keling, Parsi, Mesir, Madinah, Campa, Pahang, Kelantan, Jawa dan beberapa puluh negara yang ada di Nusantara lainnya. Untuk kepentingan ini, menurut naskah kuno Kropak 630 Sanghyang Siksakandang Karesian, telah disiapkan “Jurubasa Darmamurcaya” atau maksudnya Juru Penerang Bahasa yang tentu saja termasuk “Ahli Bahasa” dan “Penterjemah Bahasa” di dalamnya.
Walaupun saat itu oleh masyarakat dikenal sebagai “Kerajaan Pajajaran”, tapi ketika saling tukar menukar utusan, Sri Baduga Maharaja secara resmi menyebut negaranya “Kerajaan Sunda”.